Komitmen Vale Sandingkan Kemajuan Ekonomi dengan Kelestarian Alam

JAKARTA-MAPNEWS. Sebagai salah satu perusahaan terkemuka di sektor pertambangan, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) selalu berupaya keras memberi nilai tambah dan membangun warisan positif bagi generasi mendatang, antara lain adalah menjaga keanekaragaman hayati dan konsep penambangan hijau (Green Mining). Hal ini sejalan dengan tema Indogreen Forestry Expo 2013 yaitu ”Sustainable Growth with Equity in Forestry Sector Toward 2020” sebagai upaya melaksanakan pembangunan hutan berkelanjutan dan merata termasuk reklamasi hutan dan rehabilitasi lahan bekas tambang.

PT Vale telah menanam 22.000 pohon Kayu Hitam (Diospyros celebica) yang merupakan pohon endemik di lahan pasca tambangnya.  PT Vale juga mendukung pemberdayaan hutan masyarakat dengan membantu 30.000 bibit pohon Jabon (Anthocepalus spp)  sebagai fungsi lindung di sekitar lingkar operasional tambang, kemudian melengkapi 130 jenis tanaman lokal ke dalam area konservasi  ex-situ untuk melengkapi koleksi tanaman di areal konservasi, dan bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk memproduksi kompos sebagai pupuk di lahan pasca tambang.

Good Mining Practice

Untuk menjaga keseimbangan antara pembukaan lahan dan rehabilitasi lahan, PT Vale menerapkan program rehabilitasi progresif, yakni dari total sekitar 4.802 hektar lahan yang sudah ditambang, sekitar  3.845 hektar sudah direklamasi dan direhabilitasi. Di antara lahan yang sudah direhabilitasi itu, sekitar 1000 hektar sudah disisipi dengan berbagai jenis tanaman lokal. Ini sesuai dengan penerapan penambangan hijau yaitu perencanaan dan operasi tambang terintegrasi dengan kegiatan reklamasi dan rehabilitiasi, sehingga upaya memperbaiki kondisi lingkungan pasca-tambang berlangsung efektif dan efisien.

Tambahan lainnya, PT Vale juga membangun persemaian modern (Nursery) yang tidak kalah dengan persemaian yang dibangun perusahaan-perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI)  besar untuk memproduksi berbagai jenis tanaman asli setempat hingga tanaman endemis seperti Kayu hitam (Diospyros celebica),  Dengen (Dillenia serrata Thunb), dan Kaloju (Carallia braciyata).  Tanaman tersebut ditanam pada lahan pasca tambang yang telah ditanami tanaman pionir. Fasilitas pembibitan PT Vale ini mampu menyediakan hingga 700.000 pohon per tahun dan merehabilitasi sekitar 110 hektar lahan setiap tahun. Nursery PT Vale ini menjadi salah satu tolok ukur persemaian bagi perusahaan tambang di Indonesia.

Indikator lain sebagai bentuk komitmen PT Vale terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati adalah terjaganya keindahan dan keasrian Danau Matano di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dari kegiatan operasional penambangan. Danau Matano yang memiliki luas 130 kilometer persegi masih terjaga keanekaragaman hayatinya dengan kelestarian flora dan fauna endemik yang tersebar di sekitar danau ini. Jika kita memandang danau dari atas bukit, karena danau ini dikelilingi perbukitan, maka permukaan danau akan tampak seperti permukaan kaca yang membiru. Danau terdalam ke delapan di dunia ini (1.969 kaki atau sekitar 600-an meter), juga menjadi salah satu tempat orang maupun masyarakat melakukan berbagai aktivitas rekreatif seperti berenang, berlayar, memancing, bermain ski air, kano dan bahkan menyelam.

Tahun 2012, Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bappedalda) Kabupaten Luwu Timur telah melakukan audit kelayakan yang meliputikelengkapan Amdal, pengelolaan kualitas air, kualitas udara, penanganan limbah B3 dan penanganan lahan bekas tambang. "Dari hasil audit lapangan 2012, PT Vale Indonesia mendapatkan peringkat `Proper Biru` dan peringkat tersebut telah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup," ujar Basrie Kamba, Direktur External Relations, PT Vale Indonesia Tbk. ”PT Vale berkomitmen menjadi perusahaan tambang yang baik dan bertanggung jawab pada keberlangsungan ekosistem dan lingkungan."

Investasi dan Tantangan

PT Vale telah menyatakan komitmennya untuk menambah dana investasi yang jumlahnya mencapai US $ 2 Miliar atau sekitar Rp19,3 triliun untuk jangka pendek dan menengah di Sorowako (Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan) dan Bahodopi (Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah).

Di Bahodopi rencananya akan dilaksanakan penambangan bijih nikel, pembangunan pabrik pemurnian nikel, dan pembangunan infrastruktur jalan raya yang menghubungkan Sorowako dengan Bahodopi. Adapun di Sorowako, pengembangan bisnis akan meliputi peningkatan kapasitas pabrik pengolah bijih nikel  hingga  ada peningkatan kapasitas produksi dari selama ini 70.000 ton nikel per tahun menjadi sekitar 120.000 ton per tahun. “Melalui growth project ini diharapkan akan memberikan peluang untuk peningkatan bisnis perusahaan, termasuk juga untuk kesejahteraan karyawan, peningkatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat di lingkar operasional perusahaan, serta peningkatan kontribusi pemasukan finansial bagi negara,” ujar Basrie Kamba.

Rencana ini belum dilaksanakan karena proses renegosiasi Kontrak Karya belum selesai. Salah satu tantangan utama secara umum adalah berkaitan dengan kepastian hukum dan perizinan serta rekomendasi dalam berbagai tingkatan pemerintahan mulai dari tingkat kabupaten hingga pusat.  “Kami ingin menjadi perusahaan tambang pertama yang menyelesaikan renegosiasi kontrak karya dengan Pemerintah Indonesia. Indonesia akan kehilangan momentum bila rencana investasi dua miliar dollar ini tidak dapat terealisasi pada tahun ini,” pungkas Basrie Kamba.

Foto by ONE

Berita Terkait

Komentar: