Peran B2P2TO-OT dalam Saintifikasi Jamu

Ahli ethnobotani dan farmasi dunia dibuat kagum dengan keanekaragaman tumbuhan yang ada di Indonesia. Diperkirakan 40.000 spesies tumbuhan hidup di muka bumi ini, dan 30.000 di antaranya tumbuh di nusantara. Sayangnya, baru sekitar 180 spesies yang dimanfaatkan sebagai bahan oleh industri obat tradisional.

Ironisnya, dalam bidang farmasi kita justru bergantung pada bahan baku impor yang jumlahnya mencapai 95%. Pada tahun 2007, total nilai impor bahan farmasi penting mencapai USD 211,7 juta, 59% di antaranya adalah bahan baku antibiotik. Nilai impor yang tinggi ini diperparah dengan ekspor kita yang hanya dalam bentuk bahan mentah, yang nilai jualnya lebih rendah daripada dalam bentuk ekstrak.

Menyadari hal tersebut, Pemerintah mendorong bangsa kita mandiri dalam bidang farmasi. Apalagi, nilai ekonomi obat tradisional terbilang tinggi. Penyerapan tenaga kerja bisa lebih dari 3 juta orang. Potensi pasar ekspor mencapai US$ 30-40 juta, dan total pasar domestik lebih dari Rp 2 triliyun/ tahun.

Jika kemampuan riset dan teknologi ditingkatkan dan diintegrasikan, tidak mustahil Indonesia akan mandiri dalam penyediaan obat. Menjawab tantangan ini, Kementerian Kesehatan memiliki unit khusus yang meneliti dan mengembangkan tanaman obat dan obat tradisional, yaitu B2P2TO-OT (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional).

B2P2TO-OT

B2P2TO-OT yang terletak di Tawangmangu Jawa Tengah ini, memiliki lahan seluas 18,5 hektar yang mumpuni untuk pekerjaan riset dan pengembangan. Terdapat juga laboratorium 3 lantai, klinik saintifikasi jamu "Hortus Medicus", perpustakaan  dengan 1.238 koleksi pustaka, mess peneliti, ruang pasca panen, rumah kaca, kebun penelitian, etalase tanaman obat dan kebun produksi, museum mini obat tradisional, herbarium kering dan basah.

Kepada Media Artha Pratama (MAP), Kepala B2P2TO-OT Indah Yuning Prapti, SKM., M.Kes., balai tersebut memiliki kegiatan utama untuk melaksanakan saintifikasi jamu. Saintifikasi itu memberikan landasan ilmiah penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan. Ada 4 hal yang perlu diperhatikan setiap kali berbicara tentang saintifikasi jamu.

Keempat hal tersebut, lanjut Indah yang menjadi kepala balai sejak akhir 2006, adalah ketersediaan bahan baku, formula, dokter dan perangkat hukum. Bahan baku jamu harus memenuhi standar dan keberadaannya berkelanjutan. Hal ini perlu dilakukan supaya jamu yang dihasilkan aman, berkhasiat dan berkualitas. “Kita harus menerapkan budidaya yang baik dan benar. Misalnya, tidak diperbolehkan memakai pestisida, tidak boleh pakai pupuk anorganik, dan juga budidaya panen dan pasca panennya memenuhi standar,” terangnya.

Setelah bahan baku yang dihasilkan memenuhi standar, pengolahan formula bahan jamu menjadi ekstrak juga harus sesuai standar. Untuk keperluan tersebut di B2P2TO-OT telah terdapat 11 instalasi dan laboratorium dengan didukung 88 sumber daya manusia meliputi tenaga fungsional peneliti dan litkayasa serta tenaga struktural.

Berikutnya yang perlu disaintifikasi adalah para dokter. Tahun lalu, B2P2TO-OT telah mendiklat 90 orang lebih dokter. Tahun ini, dalam diklat keempat, akan ada 35 orang dokter lagi. “Mereka ini bekerja di Puskesmas. Kalau sekarang baru ada 35 Puskesmas yang menyediakan layanan jamu, setidaknya ke depan diusahakan ada sekitar 120 Puskesmas lagi, mengikuti jumlah dokter yang telah didiklat,” kata Indah yang lulus akademi perawat di RSCM tahun 1977.

Dan yang terakhir, saintifikasi jamu mestinya dilengkapi dengan payung hukum. Di Indonesia, jamu memang bukan hal asing, tapi jamu yang mulai masuk dalam pelayanan  kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit terbilang baru. Itulah mengapa kita memerlukan perangkat perundangan yang mendukung bagaimana penerapannya dalam pelayanan kesehatan.  

Puskesmas Jamu

Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusannya dalam menangani jamu dengan membuka jaringan jamu sampai ke tingkat Puskesmas. Dimulai dari tingkat penelitian tanaman obat yang salah satunya terpusat di B2P2TO-OT, dibudidayakan, diformulasikan, diproduksi, didistribusi sampai ke Puskesmas untuk dikonsumsi oleh masyarakat. “Puskesmas dipilih supaya dapat langsung dijangkau masyarakat,” ungkap Indah.

Secara umum tanggapan masyarakat terhadap jamu positif. Pada tahun 2007 saat Klinik Hortus Medicus dibuka, Indah mengisahkan, pasien yang datang hanya 5-8 orang. Sekarang jumlahnya mencapai 60-70 orang. Tetapi, kalau di hari Jumat dan Sabtu, jumlah pasien melonjak sampai di atas 100 orang. “Saya kira animo masyarakat meningkat. Uniknya mereka datang ke klinik memang untuk minta jamu, bukan minta diobati dengan obat modern. Dengan jamu, selain penyakit sembuh, tapi badan juga lebih berstamina.”

Bagaimana dengan harga? Terkait dengan hal ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mengunjungi B2P2TO-OT tahun 2009, pernah berpesan supaya obat yang dihasilkan dari tanaman obat tidak boleh mahal. “Rata-rata kami jual Rp.20.000 satu paket untuk 8 hari. Tidak mahalkan?” ujar Indah yang lulus Master Epidomologi Klinik di UGM.

Namun, Indah mengingatkan, yang terpenting dari jamu tidak hanya untuk pengobatan atau pemulihan. Justru yang paling penting, dengan jamu kita tetap sehat dengan memperhatikan sisi preventif dan promotif. Dengan rajin minum minuman sehat seperti jamu, kita menjadi tidak mudah sakit. “Saya pribadi mengharapkan sekali, minum jamu itu menjadi budaya seperti kita minum teh atau minum kopi. Mari kita budayakan lagi minum jamu,” tutupnya.  (ONE)

Berita Terkait

Komentar: