Saatnya Jamu Menjadi Tuan di Negara Sendiri

Pagi itu tidak biasa Shelvie Anggrieni (22) tampak tidak bersemangat. Tangannya sibuk meremas perut sambil menyunggingkan bibir. Terbayang bagaimana susahnya Mahasiswi S2 Sistem Informasi ini menjalankan berbagai aktivitas yang  telah menunggu untuk diselesaikan. “Beginilah kalau pas ‘datang bulan’, susah,” katanya pada Media Artha Pratama (MAP).

Untunglah kisah ini tinggal masa lalu. Ibunya punya ramuan tradisional untuk mengatasi rasa sakit saat datang bulan. Menurut Selvhie yang berkuliah di Universitas Gunadarma Semester 3 ini, ramuan tersebut terdiri dari 10 gram kunyit, 3 lembar daun sirih dan 1 potong gambir. “Semua bahan tersebut ditumbuk jadi satu, kemudian diperas sampai menghasilkan air setengah gelas,” tuturnya.  

Pengalaman Shelvie jamak kita jumpai di tengah masyarakat kita. Apalagi pada zaman sekarang, gerakan kembali ke alam tengah menjadi tren positif. Obat-obatan yang berasal dari alam atau yang biasa disebut dengan pengobatan herbal atau juga jamu makin mendapat tempat di masyarakat. Apalagi, obat ini telah lama digunakan oleh para nenek moyang kita untuk mengobati berbagai penyakit. Khasiatnya pun terbukti.

Menurut Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, Apt definisi obat tradisional (jamu) adalah bahan atau ramuan bahan yang berasal dari bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, berdasarkan pengalaman.

Saintifikasi Jamu

Dalam  perkembangan waktu, Pemerintah menyadari bahwa potensi jamu sangat besar sebagai salah satu ujung tombak pembangunan kesehatan masyarakat. Unsur pemberdayaan masyarakat pun sangat kuat karena secara mandiri kita mampu memanfaatkan tanaman obat dalam upaya pencegahan atau penyembuhan penyakit. Sumali mencatat dari 30.000-an jenis tumbuhan yang terdata, baru sekitar 1.000 jenis yang digunakan sebagai obat. Dan dari 1.000 itu tidak banyak yang sampai teregistrasi. “Jadi potensi (jamu di Indonesia) sangat besar,” tandasnya.

Fakta ini menjadi salah satu alasan bagi Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengembangkan potensi jamu sehingga mampu menjadi tuan di negeri sendiri. (Almarhumah) mantan Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH sebagaimana diungkap Prof. dr. Agus Purwadianto, SH, M.Si, Sp.FF (K), telah berkomitmen untuk mengusulkan agar anggaran untuk pengembangan jamu meningkat dari Rp 5 milyar menjadi Rp 100 milyar pada tahun 2011.

Menurut Agus yang adalah Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes, pihaknya tengah mengembangkan saintifikasi jamu. Saintifikasi Jamu adalah pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Tujuannya adalah (1) Untuk memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris, (2) Mendorong terbentuknya jejaring dokter/dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya sebagai peneliti dalam rangka upaya prefentif, promotif, rehabilitatif, dan paliatif terhadap penggunaan jamu, (3) Meningkatnya kegiatan penelitian kualitatif terhadap pasien dengan penggunaan jamu, (4) Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan.

Untuk itu, disusunlah suatu Grand Strategy Pengembangan Jamu oleh Kemenkes melalui (1) Penyusunan kebijakan nasional dan kerangka regulasi dalam mengintegrasikan obat tradisional dengan pelayanan kesehatan formal, (2) Meningkatkan keamanan, mutu, dan efikasi jamu, (3) Menjamin ketersediaan bahan baku  jamu yang berkualitas, (4) Meningkatkan akses terhadap jamu yang bermutu, aman, dan berkhasiat, serta (5) Penggunaan rasional obat tradisional/jamu.

Landasan hukumnya adalah Kepmenkes No. 1076 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional, Kepmenkes No. 1109 Tahun 2009 tentang Pengobatan Komplementer Alternatif, serta Permenkes No. 003 Tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu.

Kemudian, untuk menjamin akses masyarakat terhadap jamu yang bermutu, berkhasiat dan aman, dikembangkanlah “Pojok Jamu” di Puskesmas, pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) ditingkat rumah tangga untuk pertolongan pertama pada penyakit ringan, diklat kepada dokter umum, dokter spesialis, dokter Puskesmas tentang pelayanan obat tradisional/jamu, pembinaan produsen jamu tentang Cara Pembuatan Jamu yang Baik (CPJB), serta pengembangan 12 rumah sakit untuk persiapan saintifikasi jamu.

Semua usaha ini dilakukan dengan tujuan supaya jamu menjadi tuan di negara kita sendiri. Sebuah negara yang telah dianugerahkan kekayaan alam yang berlimpah. Sudahkah Anda minum jamu hari ini? (ONE)

Berita Terkait

Komentar: