Supaya Mendunia, Jamu Harus Distandardisasi

Diakui oleh Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, Apt jamu di Indonesia telah mengalami perkembangan signifikan. Oleh karena itu, peneliti jamu dari Universitas Indonesia ini yakin bahwa industri jamu kita akan mendunia.

“Syaratnya, jamu harus distandarisasi,” katanya kepada Media Artha Pratama (MAP).

Lebih lanjut, Sumali mengatakan bahwa pemberian kategori produk herbal menjadi jamu, herbal terstandar, dan fitofarmaka, sesungguhnya lebih bertujuan merangsang industri obat tradisional untuk meningkatkan mutu dan kualitas produk herbal yang beredar di pasaran. Dengan demikian, diharapkan efektivitas dan keamanannya bisa lebih dipertanggungjawabkan.

Hal ini disadari dan dipraktikkan oleh PT Mahkotadewa Indonesia yang didirikan oleh pasangan suami istri Harmanto dan Mikael Wuryaning Setyowati. Menurut sang istri yang kerap dipanggi Ibu Ning, perusahaannya dirintis tahun 1999. Kala itu produk olahan Mahkotadewa masih sangat sederhana. Berupa racikan untuk rebusan, dikemas dalam plastik, dan kertasnya hanya dicetak oleh print.

Untuk lebih menjamin hasil produk herbal dengan standar mutu yang tinggi, didirikanlah PT. Mahkotadewa Indonesia pada tanggal 1 Januari 2003. Sasaran mutu itu dicapai dengan menerapkan standardisasi dan teknologi dalam industrinya. Usaha pertama adalah dengan memproses HACCP pada tahun 2004. Setahun kemudian, perusahaan telah menggenggam sertifikat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point atau Sistem Analisa Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis). Konsekuensinya, perusahaan secara berkala harus melakukan analisa bahaya, menentukan titik kendali kritis, menetapkan batas-batas titik kendali kritis, prosedur monitoring, melakukan tindakan koreksi, prosedur verifikasi, dan dokumentasi pada tiap proses produksinya.

Tidak hanya itu, lanjut Ibu Ning, pihaknya juga bekerja sama dengan BATAN dalam melakukan proses iradiasi untuk produk-produk yang siap dipasarkan kepada konsumen sejak tahun 2004 . Tujuan iradiasi untuk memperpanjang masa simpan, dimana produk dapat dinyatakan aman dikomsumsi oleh masyarakat.  

Terkait proses di atas, mereka menyadari standardisasi produk jamu tidak mudah. Namun ini harus dilalui sebagai sebuah upaya menghadirkan produk yang sungguh berkualitas dan diterima di pasar. Itulah juga mengapa, sejak dari pemilihan bahan baku, mereka telah menerapkan standar. Ada sejumlah petani di Yogyakarta dan Klaten yang mensuplai bahan bakunya untuk menjamin kualitasnya nomor satu. “(Ini untuk) menerapkan pemberian obat herbal yang lebih terstandar,” ujar Harmanto. 

Proses standardisasi mulai dari penyediaan bahan baku ini juga ditekankan oleh Prof Dr. Sukardiman, Drs., Apt., MS. Guru Besar Ilmu Botani Farmasi – Farmakognosi ini mengatakan bahwa untuk menuju standardisasi jamu, tanaman obat harus dibudidaya dengan baik. 

Prof  Mae Sri Hartati dari Universitas Gadjah Mada menambahkan, supaya jamu bisa menjadi tuan di negeri sendiri, harus memenuhi beberapa syarat selain ketersediaan bahan baku. Syarat itu yakni ketersediaan obat dalam jenis dan jumlah yang cukup, keterjaminan kebenaran khasiat, mutu keabsahan obat bahan alam yang beredar serta kepastian perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan obat yang dapat merugikan/ membahayakan masyarakat. “Dalam kondisi seperti saat ini maka upaya yang paling tepat adalah mendorong pengembangan obat herbal jamu ke arah obat herbal berstandar dan fitofarmaka. Dengan harapan dapat mengurangi ketergantungan terhadap obat modern yang hampir seluruh bahan bakunya masih diimpor," ungkapnya.

Dengan demikian, melalui standardisasi, jamu memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Hartati mencatat, pasar dalam negeri untuk produk herbal telah mengalami peningkatan dari sekitar Rp 1 triliun pada tahun 2000 menjadi Rp 2 triliun pada tahun 2002 dan Rp 6 triliun pada tahun 2010. Tidak hanya diterima pasar dalam negeri, produk PT MDI telah merambah pasar internasional. Industri tumbuh, penyerapan tenaga kerja juga tinggi. Selain itu, dengan budidaya tanaman obat maka lahan tidur akan bernilai ekonomi, petani pun menjadi lebih sejahtera.

(ONE)

Berita Terkait

Komentar: