Apakah Jamu Gendong Diakui dalam Dunia Farmasi?

Ada banyak jamu beredar di tengah-tengah kita. Ternyata dalam dunia kesehatan, jamu dibagi menjadi 3 golongan.

Kepada Media Artha Pratama (MAP), Prof. Dr. Sumali Wiryowidagdo, Apt menuturkan bahwa jamu dibagi berdasarkan status pengujiannya. Ketiga jenis jamu itu adalah jamu, herbal terstandar dan fitofarmaka. Yang disebut dengan jamu adalah produk herbal yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Jenis ini kerap disebut jamu gendong atau rebusan (godhogan). Pada umumnya, jamu dalam kelompok ini diracik berdasarkan resep peninggalan leluhur, dan belum diteliti secara ilmiah. Khasiat dan keamanannya dikenal secara empiris (berdasarkan pengalaman turun temurun).

Kalau herbal terstandar sedikit berbeda dengan jamu. Pada umumnya jenis ini sudah mengalami pemrosesan, pembuatannya telah diterapkan standar kandungan bahan, cara pengolahan, higienitas, serta uji toksisitas (untuk mengetahui ada tidaknya kandungan racun dalam herbal tersebut). Khasiat dan keamanannya telah diteliti melalui uji pra-klinis (terhadap hewan) di laboratorium. Jadi, unsur-unsur di dalamnya sudah mengalami standarisasi. Di pasaran, produk herbal yang berstatus herbal terstandar jumlahnya ada 17 macam. Cara mengenalinya cukup mudah, yaitu dengan melihat logo yang umumnya tercetak pada sebelah kiri atas kemasan.  

Terakhir, fitofarmaka. Jenis terakhir ini proses pembuatan dan bahannya telah diuji secara klinis (pada manusia). Kita bisa mengenali jenis jamu ini dengan melihat simbol gambar mirip akar yang berada dalam lingkaran hijau muda, berlatar belakang warna kuning cerah pada kemasan jamu. Hingga saat ini, jenis produk herbal berstatus fitofarmaka di Indonesia baru 5 macam. Menurut Sumali, keterbatasan jumlah fitofarmaka ini disebabkan oleh biaya uji klinis dan uji khasiat yang sangat mahal dan memerlukan waktu cukup lama. (ONE)

Berita Terkait

Komentar: