Sistem Pengamanan Instansi di Indonesia Masih Rendah

JAKARTA-MAPNEWS. Sebuah instansi atau perusahaan pasti memiliki potensi masalah keamanan yang sewaktu-waktu bisa menjadi sebuah kenyataan. Seberapa besar potensi masalah itu, sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kekuasaan instansi, skala bisnis sebuah perusahaan, situasi ekonomi dan politik, serta masih banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan.

Menghadapi banyaknya variabel yang harus diperhitungkan tersebut, pihak pengelola instansi atau perusahaan seringkali tidak tahu pada titik mana mereka harus berangkat ketika menyusun sistem pengamanan. Dan memang pada kenyataannya  belum banyak pihak yang memperhatikan sistem pengamanan yang berstandarisasi.

Setidaknya hal itu diakui oleh Prof. Dr. Awaloedin Djamin, Drs, MPA. Bapak industri jasa pengamanan ini menyatakan dalam makalahnya, bahwa kesadaran pemilik dan pemimpin perusahaan atau pimpinan instansi pemerintah di Indonesia mengenai security masih sangat rendah. Akibatnya menimbulkan kerugian yang sangat besar dari pencurian internal, penggelapan, pemalsuan, perampokan dan pengrusakan sampai pada korupsi, kolusi dan nepotisme.

Menurut Awaloedin yang juga mantan Kepala Kepolisian Indonesia, semua pimpinan instansi dan perusahaan, khususnya manajer pengamanan (bila sudah ada) hendaknya mulai dengan mempertanyakan: Apa yang diamankan? Kenapa? Bagaimana cara pengamanannya? Apa kerugian, bila tidak ada pengamanan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus diketahui ancaman (threat) yang mungkin terdapat di dalam instansi/ perusahaan (internal threat) dan ancaman apa yang mungkin datang dari luar (external threat). Security manager memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengidentifikasi bidang-bidang yang potensial atau rawan terjadinya gangguan keamanan dan kerugian, kemudian merencanakan langkah-langkah untuk mencegahnya.

Lebih lanjut, pengamanan juga dilakukan khususnya pada obyek-obyek vital. Obyek vital, pada umumnya, bila terjadi gangguan keamanan, akan berdampak pada masyarakat luas, di bidang politik, ekonomi dan sosial secara nasional bahkan internasional. Yang bisa disebut obyek vital, seperti pembangkit tenaga listrik, bendungan besar, kilang minyak, gedung lembaga-lembaga negara (DPR, DPD, BPK, MA, Kepresidenan), kantor-kantor perwakilan asing, perusahaaan besar asing, hotel milik asing, dan kedutaan besar. 

Karena vitalnya, kepolisian Indonesia wajib membantu pengamanannya terutama dari ancaman luar (external threat), sedangkan pengamanan intern sepenuhnya menjadi tanggung jawab instansi/ usaha/ kantor-kantor perwakilan asing yang bersangkutan. Pengaturan dan penyelenggaraan keamanan terhadap ancaman dari luar juga dilakukan oleh instansi/ usaha/ kantor-kantor perwakilan asing masing-masing, seperti pintu gerbang, kunci-kunci, CCTV, pagar, security guards, sistem alarm, dan sebagainya.

Ancaman eksternal untuk di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena aksi terorisme, walau sudah dilakukan penindakan dengan sangat cepat, masih tumbuh di Indoenesia. Sasaran dan pola serangan para teroris menggunakan modus operandi yang selalu berkembang. Kelompok dan jejaring teror yang selama ini masih “tiarap” sebenarnya sedang memantau lengah tidaknya aparat keamanan dan aparat intelijen di Indonesia, atau akan muncul pendadakan strategis atau strategic surprises dari kelompok teror dengan memanfaatkan security gap yang terjadi.

Tindak terorisme, kata Awaloedin, adalah kejahatan yang luar biasa, karena itu seperti halnya dalam menghadapi kejahatan pada umumnya harus tetap dilakukan secara simultan dan terpadu kegiatan-kegiatan (1). Represif, (2). Preventif dan (3). Pembinaan masyarakat atau pre-emptif.

Pernyataan singkat tersebut mengindikasikan dengan jelas betapa pentingnya bagi sebuah lembaga atau perusahaan untuk memiliki sistim pengamanan yang handal. Menyadari akan penting dan strategisnya sistim keamanan, maka Royalindo Exhibition International dan Conference and Exhibitions Management Services Pte Ltd (CEMS) mengadakan Pameran Safety & Security Asia (SSA) dan Fire & Disaster Asia (FDA).

Pameran ini akan memainkan peran signifikan dalam meningkatkan infrastruktur keamanan dan keselamatan. SSA 2012, Pameran Internasional ke 2 mengenai Teknologi Keselamatan dan Pengamanan akan diadakan di Jakarta Convention Centre antara tanggal 5 dan 7 Desember 2012 yang akan diikuti sekitar 100 peserta dari 20 negara.

Prof. Dr. Awaloedin Djamin, Drs, MPA sendiri akan menjadi salah satu pembicara kunci dalam sebuah konferensi yang bertajuk “Anti-Terrorism & Key Infrastructure Protection.” Pembicara internasional yang juga hadir di antaranya Mr. Subhranshu Sekhar Das  (Direktur Asia Pasifik Aerospace & Defense Practice) yang akan berbicara mengenai dinamika industri pengamanan bandar udara, Gord Loney (Letkol (purn) Angkatan Udara Kanada) mengenai pengamanan instalasi minyak dan gas bumi terhadap pencurian dan sabotase, James Chia CPP (Manajer CPP untuk Perencanaan Pengamanan dan Keadaan Darurat) mengenai perlindungan asset kritis, Michael Boudewijn K. Wudy (PT Paramount Spirit Asia) mengenai keamanan penerbagan sipil dan Murat Altuev (Presiden Axxonsoft International, Russia) mengenai keamanan perangkat lunak dan pengintaian. (ONE)

Berita Terkait

Komentar: