ICEPO Refleksikan Industri Sawit Indonesia yang Berkelanjutan

JAKARTA-MAPNEWS. Indonesia tidak sekadar menjadi negara penghasil terbesar minyak sawit (crude palm oil/ CPO), tetapi juga menjadi yang teratas dalam hal konsumsi CPO. Oleh karena itu, Indonesia menjadi sorotan dunia, apakah kita mampu meningkatkan produksi CPO sembari tetap melestarikan dunia.

Menurut catatan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), tahun ini Indonesia akan menjadi konsumen minyak sawit terbesar di dunia dengan menghabiskan CPO sekitar 9,2 juta ton. Menggeser posisi India yang kini di urutan kedua. Hal tersebut sebagai imbas dari meningkatnya industri hilir seperti pabrik biodiesel dan oleokimia yang mampu menyerap jutaan ton CPO dan palm kernel oil (PKO) sebagai bahan baku.

Untuk produksi sawit, Derom meperkirakan tahun 2013 ini mencapai 28 juta ton. Dengan konsumsi sebesar 9,2 juta ton maka sisa 19 juta ton akan diekspor ke berbagai negara terutama India, China, dan Uni Eropa. Serapan pasar domestik sebarannya adalah 5,7 juta ton untuk bahan makanan dan 3,5 juta ton untuk industri.  

Besarnya kebutuhan akan CPO dan produksi yang dihasilkan mau tidak mau berpengaruh pada eksplorasi lahan dan lingkungan. Oleh karena itu, Pemerintah menggandeng pihak-pihak terkait untuk menyatukan komitmen dalam hal pelaksanaan sertifikasi kebun kelapa sawit ramah lingkungan atau Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO).

Menurut Menteri Pertanian Suswono, ISPO adalah suatu kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementrian Pertanian dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar dunia dan ikut berpartisipasi dalam rangka memenuhi komitmen Presiden Republik Indonesia untuk mengurangi gas rumah kaca serta memberi perhatian terhadap masalah lingkungan.

"Sertifikasi ISPO ini merupakan bukti nyata bahwa pengembangan kelapa sawit telah mengikuti kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan," kata Suswono.

Para pelaku industri kelapa sawit menaruh intensi yang besar terhadap ISPO. Oleh karena itu, isu ini akan diangkat dan dibahas dalam Konferensi dan Eksibisi Internasional Kelapa Sawit (The International Conference and Exhibition of Palm Oil 2013, ICE-PO 2013) dengan tema “Industri Kelapa Sawit untuk Bumi dan Kesejahteraan” (Palm Oil Industry for Planet and Prosperity). Forum yang yang diadakan di Jakarta Convention Center, 7-9 Mei 2013 ini posisinya sangat penting karena menjadi forum para ahli yang akan menyajikan makalah tentang teknologi, yang berorientasi pada keuntungan, manusia dan kelestarian alam.

Para pemain industri kelapa sawit akan saling tukar informasi, pemikiran, dan pengalaman antara produsen dan konsumen dalam produk kelapa sawit. Selain itu, juga menyediakan peluang unik untuk meninjau kemajuan dalam pengembangan kelapa sawit, menganalisis dan mengatasi tantangan-tantangan yang sedang dihadapi industri saat ini, khususnya soal ISPO. Acara ini diadakan untuk menjadi ‘one stop event’ bagi mereka yang berkepentingan, untuk berdiskusi, berpromosi ataupun memperluas jaringan.

Pembahasan ISPO dalam forum ICE-PO diyakini tidak menjadi obrolan sesaat. Karena komitmen Pemerintah bersama pelaku industri untuk menerapkan ISPO serius dan nyata. Sebagaimana dikatakan Suswono, ISPO baru dideklarasikan tahun 2011, namun pada awal  tahun 2013 ini ISPO sudah mampu mengeluarkan 10 sertifikasi terdiri atas 9 sertifikasi buat kebun dan 1 buah untuk pabrik kelapa sawit. Ini sebuah capaian penting, mengingat dalam ICE-PO ini hadir perwakilan dari 20 negara asing.  

Berbeda dengan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang sifatnya untuk memenuhi permintaan pasar dan bersifat voluntary, maka untuk ISPO bersifat mandatory atau wajib. Oleh karena itu, jika ada perusahaan nakal dengan tidak mengurus ISPO, maka dipastikan perusahaan tersebut akan mendapat sanksi. "Karena bersifat wajib maka akan ada sanksi bagi perusahaan yang tidak melakukan sertifikasi ISPO," tandas Suswono.

Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan menambahkan, Kementerian Pertanian (Kementan) sendiri menargetkan sebanyak 200 perusahaan sawit mendapatkan sertifikat ISPO pada 2013. Salah satu latar belakang target ini adalah para perusahaan kelapa sawit paling lambat harus mendapatkan ISPO pada tahun 2014. Dengan adanya sertifikat tersebut maka sebuah perusahaan sawit telah menjalankan proses produksi dengan tidak hanya memperhatikan faktor ekonomi, tetapi juga faktor ekologi dan sosial.

Dengan demikian, menurut Soedjai Kartasasmita, Chairman of the Advisory Board ICE-PO 2013, acara ini akan berfungsi sebagai platform untuk membahas strategi yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan usaha dalam industri minyak sawit. Dan ISPO adalah salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan tersebut. "Seperti tahun-tahun sebelumnya, ICEPO 2013 menjadi platform penting untuk berbagi persepsi dengan para ahli di berbagai bidang yang berkaitan dengan industri kelapa sawit. Jadi, mari kita gunakan kesempatan ini!"

Acara yang terdiri dari konferensi dan pameran ini akan dihadiri oleh 1.000 peserta konferensi dan 5.000 pengunjung. Peserta meliputi: Produsen, pengusaha; Eksportir, importir dan pedagang; lmuwan, insinyur dan teknolog; pembuat keputusan dan kebijakan, investor dan bankir. (ONE)

Berita Terkait

Komentar: