Sumbangsih USAID dalam Energi Terbarukan di Indonesia

JAKARTA-MAPNEWS. Indonesia bertekad untuk mengembangkan dan memanfaatkan engeri terbarukan dalam semua sektor. Hal ini didukung secara penuh oleh USAID (United States Agency International Development) melalui Indonesia Clean Energy Development Program (ICED).

Komitmen tersebut ditunjukkan dalam keikutsertaan USAID dalam konferensi energi baru terbarukan dan konversi energi (EBTKE) di Jakarta Convention Center pada hari Selasa (17/7/2012). Melalui ICED, USAID mendukung Pemerintah Indonesia mengembangkan sumberdaya energi terbarukan berkelanjutan dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari sumber energi fosil konvensional.

Bantuan teknis ICED dilaksanakan terutama melalui tiga mekanisme. Pertama, ICED memberikan dukungan perbaikan kebijakan bidang energi kepada pemangku kepentingan lokal dan nasional dengan tujuan mengatasi hambatan pada penyebaran teknologi energi bersih.

Kedua, ICED menawarkan pengembangan kapasitas institusional dan pelatihan untuk bank dan institusi keuangan lokal dalam pelaksanaan due diligence proyek energi terbarukan dan energi efisiensi.

Dan ketiga, ICED memberikan bantuan teknis, legal dan keuangan kepada sponsor proyek, dunia industri termasuk sektor agro industri.

Pembangunan energi bersih di Indonesia memiliki potensi menyediakan masyarakat pedesaan akses ke energi modern yang mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi emosi gas rumah kaca dari sektor energi dan mengurangi subsidi pemerintah pusat untuk listrik yang dibangkitkan oleh bahan bakar fosil.

Program ICED diharapkan menghasilkan pencapaian-pencapaian berikut:

  1. Pengurangan 4 juta ton emisi CO2e dari sektor energi dan transportasi.
  2. 120 MW pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi bersih terpasang.
  3. Sedikitnya 20 proyek energi terbarukan skala kecil dan menengah sudah terlaksana.
  4. Sedikitnya $120 juta pendanaan di sektor publik dan swasta terlaksana.
  5. Penyediaan akses energi bersih ke 1,2 juta orang terutama di daerah pedesaan.
  6. Kontribusi terhadap pengurangan paling sedikit $250 juta dolar dalam subsidi listrik.

Semoga usaha USAID ini turut mendukung tekad Wakil Presiden Boediono yang menargetkan pemanfaatan energi terbaru secara nasional mencapai 90% dalam waktu 10 tahun mendatang.  Menurutnya, penyusunan kerangka kebijakan energi nasional itu harus memenuhi tiga unsur. Yang pertama, adalah elemen keamanan (security). "Itu harus dipenuhi apapun yang kita rumuskan di dalam strategi kebijakan energi nasional," katanya saat membuka EBTKE.

Yang kedua adalah ekonomi. Menurutnya, faktor ekonomi ini menentukan bagaimana pengembangan sistem energi nasional yang berkelanjutan. Dan ketiga, masalah lingkungan hidup. “Kesalahan merumuskan strategis energi nasional bisa membuat kualitas hidup semakin buruk.”

Berita Terkait

Komentar: