Pertumbuhan Industri Penerbangan Harus Ditopang Sistem Pengamanan yang Andal!

JAKARTA-MAPNEWS. Industri penerbangan memiliki keterikatan yang erat dengan kondisi ekonomi global. Peningkatan 1% dari PDB global akan meningkatkan perjalanan udara sebesar 1% sampai 2,5% (Sumber: Airbus). Seiring dengan terjadinya krisis ekonomi global, perjalanan udara menurun kurang lebih 2% pada tahun 2009. Namun demikian, tren ini menunjukkan pertumbuhan menggembirakan pada tahun 2010 dan berlanjut di tahun 2011, dengan kenaikan sebesar 5% antara 2010 dan 2011.

Demikian diungkap Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono dalam Indonesian Aircraft Maintenance Shop Association (IAMSA) Seminar 2012. “Tingginya permintaan perjalanan udara akan mendorong permintaan armada baru yang berteknologi tinggi dan lebih efisien. Pertumbuhan jumlah armada pesawat terbesar, seperti layaknya pertumbuhan demand perjalanan tertinggi, dimiliki oleh pasar Asia, di mana CAGR (Compound Annual Growth Rate) dalam 10 tahun ke depan diperkirakan mencapai 6,1% per tahun. Dengan estimasi pertumbuhan jumlah armada pesawat yang relatif rendah di Amerika (sebesar 0,9% per tahun), maka dalam 10 tahun mendatang Asia akan menggeser Amerika sebagai pemegang pangsa pasar armada pesawat terbesar.”

Kontribusi terbesar dalam pola pertumbuhan penumpang udara berasal dari Asia. Di Cina, bandara di Beijing, Shanghai, Chengdu dan Shenzhen memiliki total lebih dari 200 juta penumpang per tahunnya dan tumbuh signifikan pada tahun 2011. Indonesia dan India juga mengalami pertumbuhan penumpang yang fantastis.  New Delhi dan Jakarta mencatat pertumbuhan fenomenal lebih dari 15% antara 2010 dan 2011.

Bagaimana dengan Indonesia? Negara kita memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu pasar industri penerbangan terbesar di Asia. Ada beberapa faktor pendukung yang menjadi keuntungan kita dalam mengembangkan industri penerbangan antara lain adalah populasi yang besar, pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, penetrasi pasar jasa penerbangan yang masih rendah. Sebuah proyeksi memperlihatkan bahwa baru 15% orang Indonesia menggunakan jasa penerbangan.

Berdasarkan laporan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, jumlah penumpang pesawat udara domestik pada Semester Pertama tahun 2012 mencapai 33,7 juta orang atau naik 19,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2011 yang ‘hanya’ 28,2 juta orang.  Seiring dengan peningkatan jumlah penumpang itu, terjadi juga kenaikan pergerakan pesawat sebesar 30%.

Untuk penerbangan luar negeri, pertumbuhan penumpangnya lebih tinggi, karena terjadi kenaikan dari 3,9 juta orang menjadi 4,9 juta penumpang atau terjadi kenaikan sebesar 24%. Peningkatan ini diikuti oleh jumlah pergerakan pesawat yang turut naik menjadi lebih dari 34 ribu keberangkatan dari sebelumnya 30 ribu keberangkatan saja.

Perketat Pengamanan

Situasi di atas patut disyukuri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik dan stabil turut mengangkat industri penerbangan sampai ke pelosok daerah. Bandara menjadi penuh sesak, dan perusahaan maskapai berlomba menambah armadanya. Namun, hal ini suka tidak suka harus dibarengi dengan kebijakan pengetatan pengamanan, baik di bandara maupun di atas pesawat.

Hal tersebut ditekankan secara khusus di dalam Undang-undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Di sana disebutkan bahwa bandara merupakan kawasan di daratan dan atau diperairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang dan tempat pemindahan intra dan antar moda transportasi yang dilengkapi fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjung lainnya.

Mencermati pengertian tersebut, maka bandara terutama bandara internasional merupakan obyek vital nasional yang memiliki nilai strategis. Karena segala aspek kegiatan dan permasalahannya baik yang positif maupun negatif akan membawa implikasi yang luas terhadap kredibilitas masyarakat,bangsa dan kondisi suatu Negara.

Bandara merupakan salah satu etalase Indonesia sebagai sebuah negara, yang memberikan cermin peradaban dan budaya serta kemajuan berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu situasi dan kondisi setiap bandara di Indonesia kerap menjadi acuan dalam penilaian bagi masyarakat dunia. 

Menurut mantan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Mabes Polri, Komjen Pol Iman Haryatna, permasalahan pengamanan dan keamanan bandara perlu dilihat dari 2 (dua) aspek penting yang saling berkaitan. Pertama, keamanan dan keselamatan penerbangan, karena bandara merupakan tempat aktifitas moda transportasi udara/ penerbangan, baik bagi lingkup domestik maupun internasional. Kedua, keamanan dan ketertiban masyarakat, karena bandara merupakan tempat kegiatan publickdan berbagai kepentingan negara.

Hasil yang diharapkan dengan terjaganya keamanan bandara adalah: Terjaminnya keamanan dan keselamatan penerbangan; Terpeliharanya kondusifitas kamtibmas dikawasan bandara; Terjaminnya kenyamanan, terbebasnya kekhawatiran dan ketakutan dari masyarakat pengguna jasa bandara dan moda transportasi udara; Terbangun dan terpeliharanya kepercayaan masyarakat internasional kepada dunia penerbangan nasional.

Kepedulian Indonesia untuk mewujudkan keamanan bandara juga tertuang dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Menurut Prof. Dr. K. Martono, S., L.H., salah satu aktivitas yang tergolong tindak terorisme di pesawat adalah pembajakan pesawat.

Salah satu kriteria sebuah tindakan disebut sebagai pembajakan adalah ketika ada perbuatan melawan hukum yang terjadi di pesawat dengan merampas atau mempertahankan perampasan ataupun menguasai pesawat dalam penerbangan. Bahkan, dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mengganggu ketertiban dan tata tertib dalam penerbangan, bisa dikategorikan pembajakan.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme itu selaras dengan semangat UUD 1945. Dasar negara kita itu dengan tegas mengamanatkan supaya kita turut memelihara kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera. Selain itu, peraturan tersebut juga dibuat agar negara kita ikut serta secara aktif dalam memelihara perdamaian dunia dan menegakkan kedaulatan serta sekaligus melindungi setiap warga negara Indonesia dari setiap ancaman terorisme baik dari dalam maupun luar negeri.

Tidak sampai di situ, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Bidang Keamanan Penerbangan (High-Level Conference on Aviation Security) di Montreal, Kanada belum lama ini, delegasi Indonesia mengusulkan supaya setiap petugas bandara harus diperiksa secara ketat atau 100 persen, sama dengan yang diterapkan kepada para pengguna jasa penerbangan. Ini sangat penting, mengingat tren kejahatan di dalam lingkup bandara masih terus mengintai.

Menurut Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, pemimpin delegasi, konsekuensi dari usul tersebut adalah meminta ICAO dapat segera menetapkan perubahan terhadap standar 4.2.6 Annex 17 Chicago Convention 1944 tentang Keamanan Penerbangan yang saat ini masih terdapat pengecualian dalam pemeriksaan terhadap personil di bandara.

Indonesia tidak hanya sekadar usul, karena pemeriksaan terhadap personil bandara secara 100% sudah dipraktikkan. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap kejahatan penerbangan yang kemungkinan dilakukan oleh orang di dalam bandara selain penumpang, mengacu kejadian serangan teoris terhadap WTC pada tanggal 11 September 2001. Pencegahan terhadap kejahatan penerbangan meliputi pencegahan terhadap pembajakan pesawat udara, sabotase pesawat, sabotase bandara dan fasilitasnya serta serangan teroris.

Beberapa negara yang hadir dalam pertemuan tersebut memberikan dukungan kepada usulan Indonesia. Sehingga usulan itu menjadi salah satu rekomendasi dari konferensi yang dibuka oleh Menteri Transportasi Kanada, Mr. Denis Lebel, ini untuk kemudian dapat ditetapkan oleh panel Aviation Security ICAO selambatnya pada tahun 2014.

Konferensi Pengamanan Bandara

Penjabaran di atas secara singkat mau mengatakan bahwa saat ini perekonomian Indonesia terus mengalami pertumbuhan, seakan tidak terpengaruh oleh berbagai krisis dunia. Hal tersebut turut memicu perkembangan industri penerbangan, baik dari sisi pertambahan jumlah penumpang, pesawat, maupun maskapai baru. Tren positif ini harus diimbangi dengan peningkatan keselamatan dan keamanan, baik di bandara maupun di pesawat.

Keamanan bandara tidak hanya ditunjang oleh sumber daya manusia (aviation security), tetapi juga oleh standar sistem manajemen pengamanan bandara serta penggunaan berbagai teknologi yang dirancang untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan. Sadar akan pentingnya sektor ini, maka Conference & Exhibition Management Services Ltd (CEMS) yang berbasis di Singapura bersama Royalindo Exhibition International, mengadakan Pameran Safety & Security Asia (SSA) dan Fire & Disaster Asia (FDA) di Jakarta Convention Centre, Assembly Hall 1, 2 dan 3 mulai tanggal 5 sampai dengan 7 Desember 2012.

Pameran ini akan menghadirkan peserta pameran tingkat dunia dari 14 negara di dunia seperti misalnya ASSA Abloy, perusahaan terkemuka dunia di bidang produk keselamatan dan keamanan serta Wagner Asia, pemasok mesin dan peralatan pengamanan untuk berbagai industri. Juga ada inovasi teknologi dan produk terbaru yang ditujukan untuk melindungi hidup manusia, properti dan aset. Dan akan menjadi platform yang optimal bagi kaum profesional dan pelaku industri untuk mendapatkan kajian mendalam mengenai industri ini melalui serangkaian konferensi yang akan diisi oleh para pembicara lokal dan internasional.

Salah satu konferensi yang menekankan pengamanan bandara akan dibawakan oleh Michael Boudewijn K. Wudy. Pembicara dari PT Paramount Spirit Asia itu akan mengangkat topik “Aviation Security in anticipating the rapid Growth of air transportation in Indonesia.”

Pembicara lainnya di konferensi berbeda ada Prof. Dr. Awaloedin Djamin, Drs, MPA yang mengangkat tema “Anti-Terrorism & Key Infrastructure Protection.” Kemudian ada Mr. Subhranshu Sekhar Das  (Direktur Asia Pasifik Aerospace & Defense Practice) yang akan berbicara mengenai dinamika industri pengamanan bandar udara, Gord Loney (Letkol (purn) Angkatan Udara Kanada) mengenai pengamanan instalasi minyak dan gas bumi terhadap pencurian dan sabotase, James Chia CPP (Manajer CPP untuk Perencanaan Pengamanan dan Keadaan Darurat) mengenai perlindungan asset kritis, Michael Boudewijn K. Wudy (PT Paramount Spirit Asia) mengenai keamanan penerbagan sipil dan Murat Altuev (Presiden Axxonsoft International, Russia) mengenai keamanan perangkat lunak dan pengintaian. (ONE)

Berita Terkait

Komentar FB pada Artikel ini:

Belum Ada Komentar

Jika Anda tidak online FB, silahkan tinggalkan komentar disini: